Rabu, 04 April 2018

Tips Agar Anak Muda Mau Gunakan Kain Tradisonal

Tips Agar Anak Muda Mau Gunakan Kain Tradisonal

Masih banyak anak muda yang enggan memakai busana dengan kain tradisional dengan sejumlah alasan, misalnya karena dianggap terlalu formal.

Meski begitu, saat ini sudah ada sejumlah anak muda yang mau dan senang memakai busana dengan kain tradisional di kesehariannya.

Jadi, sebenarnya faktor apa saja yang membuat anak muda mau memakai kain tradisional?

Desainer Ivan Gunawan menyoroti faktor harga dari kain tradisional yang bisa mencapai jutaan rupiah per lembarnya.

Model memeragakan busana rancangan Yogiswari Prajanti dengan tema Colourful Journey saat Indonesia Fashion Week 2018 di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (28/3/2018). Indonesia Fashion Week 2018 mengusung tema Cultural Identity dan fokus mengangkat fesyen dari tiga destinasi wisata terkenal di Indonesia, yaitu Danau Toba di tanah Batak, Borobudur di Jawa Tengah dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur.

Namun, ia melihat saat ini sudah semakin banyak label yang membuat busana dengan kain tradisional yang harganya terjangkau.
"Contohnya batik. Dengan brand-brand yang semakin banyak, harganya terjangkau jadi konsumen muda enggak harus beli batik yang selembarnya jutaan rupiah. Bisa beli batik dengan kantong sendiri," ujar Ivan seusai parade peragaan busana di Indonesia Fashion Week 2018, Rabu (28/3/2018) kemarin.

Ivan kemudian menyinggung teknik cetak Ulos yang digunakan desainer Ghea Panggabean untuk koleksi busana bertema budaya Batak Toba di IFW 2018.

Pilihan tersebut bisa menjadi salah satu cara menekan harga kain.

"Dimana kalau kain Ulos selembarnya Rp 2,5 juta kalau sudah diprint bisa jadi Rp 300-400 ribu. Bisa lebih memasyarakat," kata Ivan.

Ivan memahami jika teknik cetak tersebut menyakiti hati pengrajin kain tradisional. Namun, faktor harga menurutnya memang perlu dipertimbangkan jika ingin sebuah produk memiliki perputaran ekonomi yng cepat.

Cara lainnya adalah mengkombinasikan teknik cetak, kain polos dan sebagian kecil batik asli.

"Karena melihat dari piramida (ekonomi) bahwa yang ada di kelas menengah dan bawah yang harus lebih kita cukupi. Kalau yang ada di atas mereka enggak ada masalah beli batik sampai puluhan juta," katanya.

Model memeragakan busana rancangan Yogiswari Prajanti dengan tema Colourful Journey saat Indonesia Fashion Week 2018 di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (28/3/2018). Indonesia Fashion Week 2018 mengusung tema Cultural Identity dan fokus mengangkat fesyen dari tiga destinasi wisata terkenal di Indonesia, yaitu Danau Toba di tanah Batak, Borobudur di Jawa Tengah dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur.

Di samping faktor harga, hal lainnya yang digunakan agar anak muda mau dan senang menggunakan kain tradisional adalah desainnya.

Bateeq, produsen pakaian batik siap pakai yang mengkhususkan pada pasar anak muda, adalah salah satu yang memikirkan hal itu.

CEO Bateeq, Michelle Tjokrosaputro menyampaikan anggapannya dulu bahwa batik memiliki kesan tua terhadap pemakainya.

"Salah satu yang spesial dari Indonesia itu kain batik. Tapi, dulu saya menilai pakai batik kesannya tua atau seperti ibu hamil. Padahal kalau ingin lebih mode, ya bisa dibuat modis," tutur Michelle.

Peragaan busana terbaru dari Bateeq yang bertajuk Kelir.Dok Plaza Indonesia Peragaan busana terbaru dari Bateeq yang bertajuk Kelir.

Hal itulah yang membuat Bateeq berinovasi dengan kain batik. Meski membut busana yang kekinian, namun filosofi batik tetap tak ditinggalkan.
Pada saat yang sama, Bateeq berupaya menjadikan produknya sebagai label batik yang edgy, berenergi, dan berani.

Unsur kenyamanan juga menjadi satu hal yang menjadi perhatian utama koleksi busana Bateeq.

"Untuk anak muda mereka sukanya yang enggak ribet atau ramai motifnya," tuturnya.

0 komentar:

Posting Komentar